DISRUPTOR

DISRUPTOR
hehehehe...

Senin, 11 April 2011

Zaman Prasejarah


Masa pra aksara                                 

Prasejarah atau nirleka (nir: tidak ada, leka: tulisan) adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada masa di mana catatan sejarah yang tertulis belum tersedia. Zaman prasejarah dapat dikatakan bermula pada saat terbentuknya alam semesta, namun umumnya digunakan untuk mengacu kepada masa di mana terdapat kehidupan di muka Bumi dimana manusia mulai hidup.
Batas antara zaman prasejarah dengan zaman sejarah adalah mulai adanya tulisan. Hal ini menimbulkan suatu pengertian bahwa prasejarah adalah zaman sebelum ditemukannya tulisan, sedangkan sejarah adalah zaman setelah adanya tulisan. Berakhirnya zaman prasejarah atau dimulainya zaman sejarah untuk setiap bangsa di dunia tidak sama tergantung dari peradaban bangsa tersebut. Salah satu contoh yaitu bangsa Mesir sekitar tahun 4000 SM masyarakatnya sudah mengenal tulisan, sehingga pada saat itu, bangsa Mesir sudah memasuki zaman sejarah. Zaman prasejarah di Indonesia diperkirakan berakhir pada masa berdirinya Kerajaan Kutai, sekitar abad ke-5; dibuktikan dengan adanya prasasti yang berbentuk yupa yang ditemukan di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur baru memasuki era sejarah.
Karena tidak terdapat peninggalan catatan tertulis dari zaman prasejarah, keterangan mengenai zaman ini diperoleh melalui bidang-bidang seperti paleontologi, astronomi, biologi, geologi, antropologi, arkeologi. Dalam artian bahwa bukti-bukti pra-sejarah hanya didapat dari barang-barang dan tulang-tulang di daerah penggalian situs sejarah.
Sumber: Wikipedia.org
 Awal kehidupan manusia dilihat dari geologi
-Zaman arkaekum
 Kulit bumi masih sangat panas dan tidak ada kehhidupan
-Zaman Paleozoikum (Zaman Primer)
 Sudah ada kehidupan tetapi binatangnya berupa microba bersel Satu

-Zaman Mesohoikum (zaman Sekunder)
 Kehidupan sudah semakin berkembang, terdapat ikan, gangga, dan rumput laut dan muncul hewn yang di darat berukuran besar
-Zaman Neozoikum
-Zaman Tersien (adanya primata)
-Zaman Kuanten (muncul manusia purba)


JENIS MANUSIA PURBA
Megantrophus Paleojavanicus adalah manusia purba yang tertua di Pulau Jawa. Fosilnya ditemukan oleh G.H.R Von Koenigswald pada tahun 1936 dan 1941 di Sangiran (Surakarta) yaitu rahang bawah dan atas.Hal serupa juga ditemukan dengan Marks tahun 1952 berupa rahang bawah.Ciri ciri tubuhnya kekar,rahang dan gerahamnya besar,serta tidak berdagu sehingga menyerupai kera.Megantrophus Paleojavanicus hidup 2 juta sampai 1 juta tahun yang lalu
 Arti Dari Megantrophus Paleojavanicus
  • Megan=Besar
  • Antrophus=Manusia
  • Paleo=Tertua
  • Javanicus=Di Jawa
 Ciri Ciri
  • Memiliki Tulang pipi yang tebal
  • Memiliki otot kunyah yang tebal
  • Bertubuh Tegak
  • Tidak memiliki dagu
  • Memiliki Tonjolan kening yang menonjol
Penemu
  • G.H.R Von Koenigswald pada tahun 1936-1941 di Sangiran
  • Marks 1952 di Sangiran
Pithecanthropus =
Pitheca = kera
Antrophus= manusia
 Pithecanthropus Mojokertensis
 itu artinya manusia kera dari Mojokerto.
Itu sebenarnya cuma salah satu jenis dari phitecanthropus yang ditemukan Ralph von Koeningswald di Mojokerto tahun 1936 dalam rupa fosil anak- anak. Disebut juga Pithecanthropus Robustus.
Pithecanthropus secara tipologi berada pada lapisan Pucangan dan Kabuh. Umurnya diperkirakan 30.000- 2 juta tahun.
Ciri- ciri pithecanthropus:
  1. Tinggi: 165- 180
  2. Badan tegap, tidak setegap Meganthropus
  3. Otot kunyah tidak sekuat Meganthropus
  4. Hidung lebar dan tonjolan di kening melintang sepanjang pelipis
  5. Tidak berdagu
  6. Makanannya tumbuhan dan hewan hasil buruan
Sumber: alfaroby

  Pithecanthropus erectus

manusia purba Pithecanthropus erectus
Manusia Jawa adalah salah satu jenis Homo erectus yang pertama kali ditemukan. Awalnya, manusia ini diberi nama ilmiah Pithecanthropus erectus oleh Eugène Dubois, orang yang berhasil menemukan fosilnya di Trinil pada tahun 1891. Nama Pithecanthropus erectus sendiri berasal dari akar bahasa Yunani dan latin dan memiliki arti manusia-kera yang dapat berd
Sejarah
Ketika itu, Eugène Dubois tidak berhasil mengumpulkan fosil Pithecanthropus secara utuh melainkan hanya tempurung tengkorak, tulang paha atas dan tiga giginya saja. Dan sampai saat ini, belum ditemukan bukti yang jelas bahwa ketiga tulang tersebut berasal dari spesies yang sama.[1] Sebuah laporan berisi 342 halaman ditulis pada waktu itu tentang keraguan validitas penemuan tersebut. Meskipun demikian manusia Jawa masih dapat ditemukan di buku-buku pelajaran saat ini. Fosil yang lebih lengkap kemudian ditemukan di desa Sangiran, Jawa Tengah, sekitar 18km ke Utara dari kota Solo. Fosil berupa tempurung tengkorak manusia ini ditemukan oleh Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, seorang ahli paleoantropologi dari Berlin, pada tahun 1936. Selain fosil, banyak pula penemuan-penemuan lain di situs sangiran ini[2].

Sampai temuan manusia yang lebih tua lainnya ditemukan di Great Rift Valley, Kenya, temuan Dubois dan von Koenigswald merupakan manusia tertua yang diketahui. Temuan ini juga dijadikan rujukan untuk mendukung teori evolusi Charles Darwin dan Alfred Russel Wallace. Banyak ilmuwan pada saat itu yang juga mengajukan teori bahwa Manusia Jawa mungkin merupakan mata rantai yang hilang antara manusia kera dengan manusia modern saat ini. Saat ini, antropolog bersepakat bahwa leluhur manusia saat ini adalah Homo erectus yang hidup di Afrika (dikenal pula dengan nama Homo ergaster).
                 Sumber: devoav1997.webnode.com
  Pithecanthropus Soloensis
 Pada tahun 1931-1933 von Koeningswald dan Oppernoorth menemukan lagi fosil di Ngandong dan Sangiran (tepi Bengawan Solo, Jawa Tengah) dan diberi nama Pithecanthropus soloensis. Pithecanthropus Soloensis adalah manusia kera dari Solo. Ditemukan oleh openoorth dan Ralph von Koeningswald. Phitecanthropus Soloensis ditemukan di tepi bengawan solo. Memiliki cirri-ciri tinggi tubuhnya kira-kira 165-180 cm. Berbadan tegap tetapi tidak setegap megantropus. Tonjolan kening tebal dan melintang melintang sepanjang pelipis. Otot dan tubuhnya tidak sekuat megantropus. Volume otaknya 900 cc. Hidung lebar dan tidak berdagu. Makananya berupa variasi yaitu tumbuhan dan daging hewan buruan.
Sumber: http://indonesianto07.wordpress.com/artikel/

HOMO SOLOENSIS

Fosil paling muda yang ditemukan di Indonesia. Homo soloensis ditemukan von Koeningswald dan Weidenrich pada tahun 1931-1934 di lembah sungai Bengawan Solo. Fosil yang ditemukan berupa tulang tengkorak. Homo Soloensis artinya manusia dari solo.
• Hidup antara 25.000 s/d 40.000 tahun yang lalu
• Muka dan hidung lebar
• Dahi masih menonjol
• Tarap kehidupannya lebih maju dibanding manusia sebelumnya.


Homo Wajakensis
Fosil manusia purba dari genus homo yang berasal dari kala Pleistosen di Indonesia ditemukan di Wajak. Fosil yang ditemukan di Wajak adalah Homo Sapiens, dekat daerah Campurdarat, Tulungagung. Fosil ini ditemukan oleh Van Rietschoten pada tahun 1889 dan diselidiki pertama kali oleh Dubois. Fosil yang ditemukan terdiri atas tengkorak, rahang bawah, dan beberapa ruasleher.

Ciri-ciri Homo Wajakensis sebagai berikut :
a. Muka datar dan lebar,
b. Hidung lebar dan bagian mulutnya menonjol,
c. Dahinya agak miring dan di atas mata terdapat busur kening yang nyata,
d. Tenggorokannya sedang, agak lonjong, dan agak bersegi di tengah-tengah atap tengkoraknya dari muka ke belakang, dan
e. Mukanya lebih Mongoloid karena sangat datar dan pipinya menonjol ke samping.

Dari ciri-ciri tersebut dapat disimpulkan, manusia Wajak tubuhnya tinggi, isi tengkorak besar, dan sudah menjadi Homo Sapiens. Walaupun demikian, para ahli sulit menentukan ke dalam ras mana Homo Sapiens ini karena ia memiliki dua cirri yaitu ras Mongoloid dan Austromelanesoid. Mungkin Homo Sapiens ini tidak hidup bersamaan dengan ras-ras yang hidup sekarang. Mungkin pula dari ras Wajak itulah subras Melayu Indonesia berasal dan turut revolusi menjadi ras Austromelanesoid yang sekarang.

Sumber: Blok Timontous

 Homo Erectus/ Homo Sapiens
Homo Sapiens adalah manusia yang cerdas dan bijaksana. Umurnya sekitar 25000 sampai 4000. Ciri-cirinya tubuhnya sudah sempurna, berpileir maju, volume otaknya kira-kira 3400 cc. Homo sapiens anatomi populasi modern yang dikenal dari Timur Tengah selama 100.000 tahun lalu, dari Asia Timur selama 67.000 tahun yang lalu, dan Australia Selatan selama 60.000 tahun yang lalu. Homo sapiens fosil Eropa diketahui dari 35.000 tahun yang lalu. Homo sapiens populasi pernah diperkirakan telah dijajah Dunia Baru sekitar 11 hingga 13.000 tahun lalu, tetapi penelitian terbaru mengindikasikan tanggal awal kolonisasi. ( Boaz and Almquist, 2002 ) Ini merupakan area penelitian aktif. ( Boas dan Almquist, 2002 ).

ZAMAN BATU

Paleolithikum
Paleolitik (Bahasa Inggris: Paleolithic atau Palaeolithic, Yunani:παλαιός (palaios) — purba dan λίθος (lithos) — batu) adalah zaman yang bermula kira-kira 50.000 hingga 100.000 tahun yang lalu. Periode zaman ini adalah antara tahun 50.000 SM - 10.000 SM.
Pada zaman ini, manusia Peking dan manusia Jawa telah ada. Di Afrika, Eropa dan Asia, manusia Neanderthal telah hidup pada awal tahun 50.000 SM, manakala pada tahun 20 000 SM, manusia Cro-magnon sudah menguasai kebudayaan di Afrika Utara dan Eropah.
Pada zaman ini, manusia hidup secara nomaden atau berpindah-randah dalam kumpulan kecil untuk mencari makanan. Mereka memburu binatang, menangkap ikan dan mengambil hasil hutan sebagai makanan. Mereka tidak bercocok tanam. Mereka menggunakan batu, kayu dan tulang binatang untuk membuat peralatan memburu. Alat-alat ini juga digunakan untuk mempertahankan diri daripada musuh. Mereka membuat pakaian dari kulit binatang. Selain itu, mereka juga pandai menggunakan api untuk memasak, memanaskan badan dan menakutkan binatang.
 Berdasarkan penemuan fosil manusia purba jenis manusia purba hidup pada zaman Paleolitikum Empat Planet Dukung Adanya Kehidupan; Sistem Imun Tubuh; Industri Raksasa Pembunuh.
Sumber: Wikipedia.org
Zaman Mesolitikum
Mesolitikum (Bahasa Yunani: mesos "tengah", lithos batu) atau "Zaman Batu Pertengahan" adalah suatu periode dalam perkembangan teknologi manusia, antara Paleolitik atau Zaman Batu Tua dan Neolitik atau Zaman Batu Muda.[1]
Istilah ini diperkenalkan oleh John Lubbock dalam makalahnya "Jaman Prasejarah" (bahasa Inggris: Pre-historic Times) yang diterbitkan pada tahun 1865. Namun istilah ini tidak terlalu sering digunakan sampai V. Gordon Childe mempopulerkannya dalam bukunya The Dawn of Europe (1947).
Pada zaman mesolitikum di Indonesia, manusia hidup tidak jauh berbeda dengan zaman paleolitikum, yaitu dengan berburu dan menangkap ikan, namun manusia pada masa itu juga mulai mempunyai tempat tinggal agak tetap dan bercocok tanam secara sederhana. Tempat tinggal yang mereka pilih umumnya berlokasi di tepi pantai (kjokkenmoddinger) dan goa-goa (abris sous roche) sehingga di lokasi-lokasi tersebut banyak ditemukan berkas-berkas kebudayaan manusia pada zaman itu.
Sumber: Wikipedia.org
Zaman Neolitikum
Neolitikum adalah fase atau tingkat kebudayaan pada zaman seperti peralatan dari batu yang diasah, pertanian menetap, peternakan, dan pembuatan tembikar. Pada zaman ini manusia menghasilkan banyak kebudayaan. Antara lain kapak lonjong, kapak bahu, kapak persegi, tembikar, dan perhiasan. Di zaman itu manusia sudah memulai masa food producing, bercocok tanam, nelayan, dan beternak.
Sumber: Wikipedia.org
Zaman Megalitikum
Megalit berasal dari kata dalam bahasa Yunani μέγας megas berarti besar, dan λίθος lithos berarti batu.
Kebudayaan Megalitikum bukanlah suatu zaman yang berkembang tersendiri, melainkan suatu hasil budaya yang timbul pada zaman Neolitikum dan berkembang pesat pada zaman logam. Setiap bangunan yang diciptakan oleh masyarakat tentu memiliki fungsi.
Contohnya hasil kebudayaan zaman megalitikum: kapak persegi, kapak lonjong, Menhir , Dolmen, Kubur batu, Waruga, Sarkofagus, Punden Berundak. Di zaman ini manusia yang ada adalah Proto Melayu, Sasak, Nias, Toraja, Dayak, dan Batak.
Sumber: Wikipedia.org

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar